Pages

Rabu, 22 Mei 2013

 Langkah-langkah memotret

1. Belajar untuk berpikir secara abstrak
2. Usahakan kaki Anda bergerak3. Gunakan "kekuatan bentuk" untuk membuat komposisi
5. Perhatian POI/COI
6. Pengulangan Visual (Pola) yang menarik
7. Menggunakan ruang sebagai elemen komposisi
8. Membingkai subjek Anda "FRAMING"
10. Menyediakan persiapan yang matang  untuk perjalanan sebelum memotret
 
 
 
 
 

Elemen Rule of Thirds dalam Fotografi

  Disebut juga  aturan 1/3 bagian merupakan suatu petunjuk bagaimana caranya memposisikan objek di 1/3 bagian dalam foto agar lebih enak dilihat. Aturan ini mungkin lebih tepat disebut sebagai panduan atau pedoman, karena tidak selamanya penempatan objek di 1/3 bagian foto lebih enak dilihat, tergantung dari objek dan hasil foto dari tiap fotografer. Untuk jelasnya pada ilustrasi gambar berikutPosisi 1/3 bagian adalah pada titik-titik persimpangan atau pertemuan antara garis horisontal dan vertikal (salah satu posisinya adalah pada titik di bulatan biru), dan juga pada sepanjang garis vertikal atau horisontal (salah satu posisinya pada garis horisontal biru).

rule of third composition

Teknik Pemotretan Fotografi Pemula


Membuat foto indah melibatkan pemikiran-pemikiran dan ide yang kreatif. Meskipun sering terbantu dengan peralatan fotografi yang bagus, namun yang Anda perlukan sebelum pengambilan foto adalah berpikir dan mengerti tentang apa yang Anda coba tangkap dari objek atau yang akan Anda ciptakan dari objek.

berikut tips dari saya:
1. Potret lebih dekat ke Point Of Interest (POI, fokus utama dalam foto)
2. Potret dengan cepat untuk menangkap momen
3. Hati-hati dalam mengkomposisi objek dalam foto
4. Selektif dalam menampilkan elemen-elemen dalam foto
5. Fokus pada objek
6. Perhatikan sumber cahaya
7. Berani dalam memotret

"Jangan takut untuk mencoba"
       

Sabtu, 11 Mei 2013


Menuntut Keadilan di Tangan Keadilan 

Hentikan Penindasan terhadap Kaum Buruh, NOL KM Jogja 1 Mei 2013
     Kaum buruh yang merupakan tulang punggung suatu perusahaan milik Negara dan Swasta di negri ini masih saja kita saksikan di anaktirikan. sehingga banyak Buruh-buruh di negara ini turun kejalan dan menuntut untuk di naikkan upah kerjanya. 
Aliansi masyarakat papua
"Merdeka". Aliansi Mahasiswa Papua melekuakan aksi di NOL KM Jogja  dalam rangka menuntut "Hak Menentukan Nasib  Sendiri  Solusi Demokratis Bagi Rakyat Papua". NOL KM Jogja 01 Mei 2013.


Aliansi masyarakat papua menuntut kepada PBB dan Indonesia untuk segera:
  1. Berikan kebebasan dan hak menetukan nasib sendiri bagi Rakyat Papua sebagai solusi Demokratis.
  2. Tarik militer (TNI-Polri) Organik dan Non-organik dari seluruh tanah Papua.
  3. Hentikan eksploitasi dan tutup seluruh perusahaan milik kaum imperialis : Freeport, BP, LNG Tnagguh, Corindo, Medco, dll.
Demikian pernyataan bentuk perlawanan atas penjajahan, penindasan dan penghisapan oleh Indonesia dan tuannya kaum Imprealisme atas Rakyat Papua. 

Minggu, 05 Mei 2013

Tari Gandrung Masyarakat Sasak Lombok


Menurut seorang sumber, tarian Gandrung ini sudah di kenal sejak zaman Raja Airlangga di Jawa Timur. Pola tariannya pada kala itu tampak luar baisa Karena tidak mengikuti pola gerak serta iringan lagu yang sesuai dengan patokan yang lazim. Konon tarian ini lahir pada saat dimana tersedia perangkat gamelan yang baru selesai di gunakan dalam sebuah acara resmi. Para prajurit Kraton melihat kesempatan untuk bergembira dan mencoba memainkan alat tersebut seadanya.
Tari Gandrung benar-benar merupakan tari Rakyat pada arena terbuka yang di lingkari penonton dan fungsinya semata-mata untuk menghibur Rakyat seperti pada acara pesta Perkawinan,  Khitanan, dan pada hari-hari besar Nasional.  Gandrung tersebar di beberapa desa di pulau Lombok antara lain di Gerung  Lombok Barat, dan lenek Aikmel Lombok Timur.
Instrumen gandrung dalam bentuk okestra terdiri dari pemugah, saron, calung, jegongan, rincik, petuk, terompong, gender, redep, dan suling.

Presean Masyarakat Suku Sasak Lombok



       Presean merupakan bagian dari upacara adat Lombok ini adalah simbol dari kejantanan pemuda suku Sasak. Konon, acara ini dilaksanakan pada musim kemarau untuk meminta hujan, tetapi seiring perkembangan zaman, Presean Tarung ini diadakan pada acara perayaan hari kemerdekaan Indonesia dan hari-hari besar Nasional. Presean adalah pertarungan yang dilakukan oleh dua orang lelaki Sasak yang bersenjatakan tongkat rotan (penyalin) dan memakai perisai sebagai pelindung, terbuat dari kulit kerbau tebal yang biasa disebut dengan ende. Wasit yang berada di pinggir disebut Pakembar Sedi, sedangkan yang berada di tengah disebut Pakembar Tengaq. Selama upacara berlangsung, para petarung (Pepadu) menyerang satu sama lain.
        Seni Presean ini bertujuan untuk menguji keberanian, ketangkasan, dan ketangguhan seorang pepadu dalam pertandingan. Keunikan dari pertarungan Peresean ini adalah pesertanya tidak dipersiapkan sebelumnya karena para petarung diambil dari penonton sendiri ketika acara pertarungan dimulai.
Pemenang dalam Peresean ini ditentukan dengan dua cara yaitu: Pertama, ketika kepala atau anggota badan salah satu Pepadu mengeluarkan darah, maka pertarungan dianggap selesai dengan kemenangan di pihak Pepadu yang tidak mengeluarkan darah. Kedua, jika kedua Pepadu sama-sama mampu bertahan selama lima ronde, maka pemenangnya ditentukan dengan skor tertinggi. Aturan mainnya, petarung tidak boleh memukul bagian bawah perut. Jika pukulan sempat mengenai kepala dan mengalami luka-luka, maka pertandingan tidak bisa dilanjutkan. 
         Walaupun pertarungan ini terlihat menyeramkan, setiap akhir pertandingan, para petarung harus  berpelukan dan berjabat tangan dan tidak menyimpan rasa dendam. Petarung yang terluka pun akan segera diobati oleh Belian (Tabib) dengan obat sejenis minyak dan ramuan tertentu.