Pages

Rabu, 29 Mei 2013

De Gea Tak Ingin Pindah ke Barcelona
 

MADRID, KOMPAS.com - Kiper David De Gea, mengaku gembira bermain untuk Manchester United dan ingin terus begitu untuk waktu lama.

"Aku bahagia di Manchester. Ini musim yang bagus dan semakin lama, semakin baik aku di sini. Aku memiliki kontrak dan berharap berada di Manchester United untuk waktu yang lama,"aku De Gea.
Hal tersebut disampaikan De Gea menanggapi pemberitaan di Spanyol yang menyebutnya menjadi target transfer Barcelona.

Barcelona mencari kiper baru untuk menggantikan Victor Valdes, yang telah menyatakan tak berminat memperpanjang kontrak dan kemungkinan dijual pada bursa transfer musim panas ini.
Liputan6.com, Jakarta : Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) mengungkapkan kejanggalan adanya aliran dana siluman pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2012 dengan nilai mencapai triliunan rupiah.

Kepala BPKP Mardiasmo mengatakan, empat dinas yang diduga menggunakan dana tersebut adalah Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perhubungan.

"Empat dinas itu menggunakan APBD-P 2012 dengan jumlah yang sangat besar namun janggal (fraud). Bentuknya seperti pengadaan dokumen belum siap, alokasi anggaran yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Ada yang kurang dan lebih, karena kalau berlebih akan dipermasalahkan," jelas dia di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (29/5/2013).

Guna menyelidikan hingga tuntas, menurut Mardiasmo, pihaknya tengah melakukan sampling atau audit terhadap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Pekerjaan Umum. Ke depan, audit susulan akan dilakukan di Dinas Kesehatan dan Dinas Perhubungan.

Sayangnya, dia masih enggan menyebut hasil audit terkait besaran penggunaan dana tak wajar pada APBD-P 2012. "Saya harus cek kembali, tapi itu bukan korupsi melainkan potensial lost. Kalau uang yang digunakan banyak, potensi lost-nya juga besar," ucapnya.

Untuk mencegah tindakan penyelewengan dana rakyat agar tidak terulang kembali, BPKP mengajak Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi guna melakukan tahapan pre audit pada setiap pengadaan barang dan jasa dari Kementerian/Lembaga dengan nilai tertentu.

"Kami sudah bicara dengan Jokowi, kalau ada pengadaan barang/jasa dengan angka di atas Rp 100 miliar, BPKP akan melakukan pre audit dari awal sampai akhir," terang dia.

Setiap kepala daerah di masing-masing Provinsi pun, BPKP meminta agar mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai langkah pencegahan kasus korupsi serta menghemat belanja di daerah. Cara ini diyakini Mardiasmo dapat meminimalisir terjadinya tindakan korupsi.

"Proses sedang berjalan, dan tahun depan kami akan melanjutkan audit serupa di provinsi lain serta Ibukota provinsinya. Jadi kalau kami ke Medan, kami akan berurusan ke Pemerintah Daerahnya, sehingga upaya pencegahan ini terus berkelanjutan," pungkas dia. (Fik/Ndw)
(Antara/Syafril Adriansyah)
Liputan6.com, Jakarta : Kementerian Sosial mengungkapkan pemberian beras miskin (Raskin) bagi masyarakat kurang mampu bakal diperpanjang menjadi 15 bulan dari sebelumnya 12 bulan. Perpanjangan itu dilakukan seiring rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Sekertaris Jendral Kementrian Sosial, Toto Utomo Budi Santosa saat mempresentasikan dihadapan anggota komisi VIII di gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (29/5/2013) mengatakan keputusan memperpanjang masa pemberian Raskin diputuskan dalam rapat koordinasi Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, bersama Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Keuangan dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

"Tambahan dananya senilai Rp 4,2 triliun atau sekitar Rp 1,43 triliun per bulan dari anggaran subsidi raskin senilai Rp 17,1 triliun," ungkapnya.

Rencananya, pemerintah bakal menyalurkan Raskin kepada sekitar 15,5 juta Rumah Tangga Sasaran-Penerima Manfaat (RTS-PM). Dengan adanya perpanjangan masa penyaluran Raskin, pemerintah melalui Ditjen Anggaran Kementerian Keuangan menetapkan anggaran operasial sebesar Rp 174 miliar dari sebelumnya Rp 197 miliar.

Data Kemensos menunjukan, dana operasional program Raskin tersebut akan digunakan untuk program administrasi, operasional, monitoring dan evaluasi sebesar Rp 7,6 miliar. Alokasi lain adalah pendampingan pelaksanaan subsidi Raskin oleh Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) sebanyak 5.267 orang selama 7 bulan dengan anggaran Rp 11,9 miliar, Pengadaan, personalisasi dan pendistribusian Kartu Perlindungan Sosial (KPS) sebanyak 15,5 juta lembar senilai Rp 154,4 miliar.

"Rencananya KPS akan dibagikan kepada RTS-PM mencapai 100% pada tanggal 10 Juli 2013 sesuai dengan jadwal proses pengadaan, personalisasi dan pendistribusian KPS,"tuturp Toto. (Yas/Shd)
 Profil Sang MahaDewa 19

Ahmad Dhani Prasetyo (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 26 Mei 1972; umur 41 tahun) atau yang lebih dikenal dengan Ahmad Dhani adalah seorang musisi rock dan pengusaha berkebangsaan Indonesia. Ia merupakan pendiri dan pemimpin grup musik Dewa 19 yang merupakan salah satu band paling sukses sepanjang dekade 1990-an dan 2000-an. Ia juga telah mencetak beragam karya yang berhasil mengorbitkan banyak penyanyi dan grup musik. Dhani juga merupakan pendiri dan pimpinan dari Republik Cinta Management. Dhani dikenal sebagai tokoh yang kontroversial dan sering memancing pro dan kontra. Ia juga dikenal sebagai musisi dengan eksperimentasi musik dan lirik puitis yang mengutip kata-kata mutiara dari pujangga terkenal.[1] Majalah MTV Trax edisi perdana tahun 2002 menobatkan Dhani sebagai salah satu "25 Musisi/Grup Paling Berpengaruh dalam Musik Indonesia."[1] Majalah Rolling Stone juga menempatkannya ke dalam daftar "The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa.
 Iwans Fals Idolaku

Iwan Fals yang bernama lengkap Virgiawan Listanto (lahir di Jakarta, 3 September 1961; umur 51 tahun) adalah seorang Penyanyi beraliran balada dan Country yang menjadi salah satu legenda hidup di Indonesia.
Lewat lagu-lagunya, ia 'memotret' suasana sosial kehidupan Indonesia pada akhir tahun 1970-an hingga sekarang, kehidupan dunia pada umumnya, dan kehidupan itu sendiri. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Namun demikian, Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya sendiri tetapi juga sejumlah pencipta lain.
Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional dan Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.
Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum 'akar rumput'. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan OI. Yayasan ini mewadahi aktivitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang OI dapat ditemui di setiap penjuru nusantara dan beberapa bahkan sampai ke mancanegara.

Rabu, 22 Mei 2013

Kamera Mirrorless vs kamera DSLR

Tak terasa, sistem mirrorless sudah berusia 4 tahun. Pertama kalinya, sistem ini diperkenalkan oleh Panasonic dan Olympus dengan meluncurkan kamera mirrorless pertama mereka yaitu Panasonic G1 dan Olympus PEN EP1. Kedua sistem ini bergabung bersama beberapa produsen lensa dan kamera lain untuk membentuk konsorsium yang dinamakan micro four thirds system. Belakangan ini Olympus dan Panasonic mengenalkan generasi terbaru kamera mirrorles yaitu Olympus PEN EP5 dan Panasonic G6. Membaca pengumuman ini, saya merasa waktu cepat sekali berlalu.
Tidak lama kemudian produsen kamera lain pun ikut-ikutan membuat kamera bersistem mirrorless, antara lain: Sony NEX, Samsung NX, Fuji X, Nikon 1, dan Canon EOS-M.
Berbagai jenis kamera mirrorless: Dari kiri atas searah jarum jam, Nikon 1 V2, Canon EOS-M, Sony NEX 6, Panasonic GF5, Olympus OMD EM5, Fuji X-PRO 1
Konsep sistem kamera mirrorless memang kuat, yaitu memprioritaskan ke ukuran dan berat yg ringan dan kecil tapi kualitas foto yang dihasilkan setara dengan yang dihasilkan sebagian besar kamera DSLR, dan kamera mirrorless ini juga bisa gonta-ganti lensa. Posisi sistem mirrorless berada diantara kamera smartphone/compact dan DSLR. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Banyak kamera sistem mirrorless telah dilengkapi oleh WiFi, tapi tidak sefleksibel kamera ponsel karena hasil fotonya tidak bisa diupload langsung ke jejaring sosial favorit seperti facebook, flickr, dll.
Alasan munculnya sistem ini muncul adalah kebanyakan orang tidak menyukai membawa kamera DSLR yang besar berat, jadi dibuatlah sistem kamera dan lensa yang berukuran lebih kecil. Caranya dengan menghilangkan prisma jendela bidik, dan cermin yang membuat kamera DSLR tebal dan berat.
Dalam perkembangannya, sistem mirrorless secara umum telah meningkat cukup banyak. Dari kecepatan autofokusnya, kualitas layar LCD dan jendela bidik elektroniknya, dan koleksi lensa-lensa juga meningkat kualitas dan jumlahnya meski belum selengkap dan secepat sistem kamera DSLR. Untuk kinerja autofokusnya, kinerja sebagian besar kamera mirrorless masih lebih lambat daripada sistem autofokus DSLR yang sudah teruji.
Meski mengalami perkembangan yang cukup pesat, dan keunggulan di sisi ukuran dan berat, sistem mirrorless ini belum dapat menyamai atau menggantikan volume penjualan sistem kamera DSLR. Kuartal pertama tahun 2013. Jumlah pengiriman kamera mirrorless sebanyak 603,532 unit. Sedangkan jumlah pengiriman kamera DSLR di kuartal yang sama berjumlah 2,600,765 unit.
Banyak faktor yang menyebabkan mengapa sistem kamera DSLR belum tergantikan, tapi yang paling penting yang harus diatasi sistem kamera ini adalah masalah persepsi pembeli. Di kacamata awam, mirrorless kualitasnya masih dibawah sistem kamera DSLR, dan memperparah keadaan, kamera mirrorless kebanyakan dijual dengan harga yang diatas kamera DSLR.
Di mata kaum profesional atau amatir yang serius, mirrorless masih berperan sebagai kamera “main-main” yang dibawa untuk memotret yang tidak serius atau bukan untuk pekerjaan profesional. Saat memotret hal-hal yang serius, fotografer berpengalaman masih memilih sistem kamera DSLR. meskipun hampir semua merek kamera kini memiliki sistem mirrorless.
Untuk bisa memenangi hati para fotografer, insinyur-insinyur yang merancang kamera dan lensa sistem ini memiliki pe-er yang tidak sedikit. Untuk menarik minat hati fotografer yang saat ini mengunakan kamera DSLR, mereka perlu menyiapkan lebih banyak lensa berkualitas tinggi setidaknya setara dengan lensa seri L Canon atau lensa bercincin emasnya Nikon. Selain itu, memasukkan jendela bidik optik seperti yang telah dilakukan kamera Fuji seri X. Satu lagi, yaitu menggarap kamera dengan sensor berukuran setara dengan kamera DSLR full frame.
Untuk menarik pengguna compact dan smartphone, mereka harus memudahkan koneksi dan upload foto ke jejaring sosial populer, memberikan lebih banyak opsi untuk olah digital di dalam kamera, dan yang paling penting, menurunkan harga yang saat ini masih relatif tinggi. Mari kita sama-sama ikuti perkembangan atau kejutan apa lagi yang diantarkan oleh sistem mirrorless lima tahun kedepan.
Sejarah Fotografi - dari Kamera Obscura hingga Fotografi Digital

 Perkembangan dunia fotografi memang tidak terlepas dari sejarahnya yang teramat panjang, dimulai dari masa sebelum Masehi hingga ke masa sekarang ini. Kini, fotografi telah menjadi suatu bidang yang amat populer dan dapat dipahami serta dipraktekkan dengan mudah oleh setiap orang. Keadaan seperti ini tidak mungkin tercapai tanpa adanya penemuan atau inovasi yang dilakukan oleh para tokoh. Berikut ini merupakan pemaparan perkembangan fotografi dari mulai penemuan konsep kamera yang paling sederhana hingga ke era fotografi digital.

1. CAMERA OBSCURA

Camera Obscura (selanjutnya ditulis kamera obscura), berasal dari kata dalam bahasa latin yang artinya ‘kamar gelap’. Disebut demikian karena pada awalnya kamera obscura memang sebuah ruangan gelap yang memiliki sebuah lensa cembung/lubang kecil di salah satu bagian sisinya. Melalui lensa cembung/lubang kecil inilah, cahaya dari luar akan masuk dan memproyeksikan citra dari obyek/keadaan di luar, ke atas sebuah media.
Sebuah kamera obscura berbentuk ruangan, di University of North Carolina at Chapel Hill. Area yang diberi lingkaran berwarna kuning adalah lubang kecil tempat masuknya cahaya.
Sejarah awal dari konsep pemroyeksian/pemantulan cahaya bisa ditelusuri ke tahun 336 SM. Saat ituAristoteles (384 – 322 SM) melihat bentuk sabit yang tercipta akibat dari peristiwa gerhana matahari sebagian. Bentuk sabit itu terproyeksikan ke atas permukaan tanah, melalui lubang-lubang kecil dari sebuah ayakan. Aristoteles kemudian membuat lubang kecil pada sebuah lempengan logam. Dan ternyata, lubang kecil pada lempengan logam tersebut memang bermanfaat sebagai jalan masuknya cahaya yang memproyeksikan citra dari luar, ke atas sebuah bidang. Peristiwa inilah yang melahirkan apa yang disebut dengan ‘prinsip optik’, suatu prinsip yang sangat bermanfaat dalam pengembangan teknologi fotografi (kamera) hingga sekarang.
Perkembangan selanjutnya dilakukan oleh seorang ilmuwan Mesir bernama Abu Ali Al-Hasan Ibn Al-Haitham (965 – 1039 M), atau yang lebih dikenal dengan sebutan‘Al-Hazen’. Al-Hazen adalah orang pertama yang menerapkan prinsip optik pada suatu ruangan gelap. Ruangan gelap inilah yang kemudian disebut sebagai kamera obscura.
Pada abad ke-15, seorang pelukis dan penemu terkenal, Leonardo Da Vinci (1452 – 1519 M), memanfaatkan kamera obscura untuk membantunya membuat lukisan. Ia mengatur sedemikian rupa agar proyeksi cahaya dari luar ruangan bisa jatuh tepat ke atas media lukisnya. Dengan cara itu, ia dapat menyalin citra yang terproyeksi, menjadi sebuah lukisan. Selain itu, Leonardo Da Vinci juga membuat rancangan kamera obscura berbentuk praktis yang bisa dibawa kemana-mana. Akan tetapi rancangan itu tidak sempat ia realisasikan.

2. PINHOLE CAMERA/KAMERA LUBANG JARUM

Kamera lubang jarum menggunakan konsep yang sama dengan kamera obscura, yaitu memproyeksikan citra dari obyek di luar, melalui sebuah lubang yang sangat kecil. Hanya saja, kamera lubang jarum tidak sebesar ruangan seperti halnya kamera obscura.
Contoh foto yang dihasilkan oleh sebuah kamera lubang jarum.
Untuk memproduksi citra yang akan tercetak di atas media (kertas khusus/lempengan logam), kamera lubang jarum membutuhkan waktu exposure(penangkapan cahaya) yang lama, bahkan sangat lama bila dibandingkan dengan kamera biasa, bisa beberapa menit, hingga berjam-jam.
Catatan tertulis tentang kamera lubang jarum, berasal dari China pada abad ke-5 sebelum Masehi. Seorang ilmuwan China bernama Mo Jing, menyebutkan tentang teori pembentukan citra melalui sebuah lubang kecil. Kemudian pada abad ke-10 sampai 16, banyak ilmuwan menjadi penemu kamera lubang jarum, seperti seorang ilmuwan China bernama Shen Kuo(1031 – 1095), Roger Bacon, Robert Grosseteste, hingga ilmuwan Mesir, Al-Hazen, yang juga menjadi penemu dari kamera obscura.

3. KAMERA FOTO

Kamera foto berarti suatu alat yang fungsinya tidak hanya memproyeksikan citra saja, tetapi juga menggambarkan citra tersebut ke atas sebuah media, secara permanen. Kamera foto merupakan hasil pengembangan dari fungsi yang sudah ada pada kamera obscura temuan Al-Hazen. Bila menelusuri sejarah penemuan kamera foto modern, maka kita akan bertemu dengan 4 orang tokoh dari abad ke-19 yang telah berjasa menunjukkan jalan menuju dunia fotografi modern.
Orang yang pertama adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Perancis, Joseph Nicéphore Niépce. Di tahun 1820an ia melakukan eksperimen dengan kamera obscura. Niépce menyisipkan sebuah media ke dalam kamera obscura, agar citra yang terproyeksikan bisa terekam dalam media itu.
View from the Window at Le Gras, foto yang paling pertama kali dibuat.
Media yang digunakannya adalah sebuah lempengan timah yang diolesi minyak khusus. Lempengan timah ini disimpan di dalam kamera obscura dan terpapar selama 8 jam oleh sinar matahari yang cerah. Citra yang terproyeksi dan terekam pada lempengan timah itulah, yang merupakan foto tercetak pertama yang berhasil dibuat dalam sejarah umat manusia. Foto itu diberi judul “View from the Window at Le Gras”, dibuat pada tahun 1826.
Tahun 1826, Joseph Nicéphore Niépce berkolaborasi dengan seorang seniman dan ahli kimia Perancis bernama Louis JM Daguerre. Niépce meninggal dunia pada tahun 1833. Tapi setelah itu Daguerre terus menyempurnakan eksperimen Niépce. Ia menemukan cara agar gambar yang dihasilkan bisa terekam dengan lebih baik.
Boulevard du Temple (1838/1839), foto pertama yang menampilkan citra manusia. Dibuat oleh Louis JM Daguerre.
Daguerre kemudian menggunakan media berupa lempengan berlapis perak. Sebelum lempengan itu dipapari cahaya, pertama-tama ia mengasapinya dengan uap dari zat yodium, agar lebih sensitif terhadap paparan cahaya. Setelah dipapari cahaya selama 10 menit melalui kamera obscura, lempengan berlapis perak tersebut diangkat dan diasapi lagi oleh uap dari zat merkuri serta dicelupkan dalam larutan garam. Akhirnya muncullah gambar yang kualitasnya lebih baik daripada foto yang dihasilkan selama 8 jam melalui eksperimen Niépce. Gambar yang diambil Daguerre ini dibuat pada sekitar akhir tahun 1838 atau awal tahun 1839. Diberi judul“Boulevard du Temple” dan merupakan foto pertama yang menampilkan citra manusia di dalamnya.
Proses dan perangkat yang dipergunakan Louis JM Daguerre untuk membuat foto, kemudian dipatenkan dan diberi nama ‘Daguerreotype’. Daguerreotype menjadi populer dan sering dipergunakan untuk mengambil gambar dari tokoh-tokoh terkenal. Sehingga alat ini bisa disebut sebagai kamera foto pertama yang digunakan di masyarakat.
Percobaan berhasil yang dilakukan oleh Daguerre, sudah mulai memperkenalkan konsep film negatif yang bisa diubah menjadi positif dengan cara-cara tertentu. Sebenarnya, pada periode yang sama, seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris bernama William Henry Fox Talbot juga telah melakukan eksperimen yang mirip dengan eksperimen Daguerre. Barulah setelah Daguerre mematenkan proses temuannya, Talbot juga berusaha mempublikasikan hasil eksperimennya. Talbot lebih memfokuskan penelitiannya pada media penyerap cahaya atau kertas foto. Ia menciptakan media yang merupakan kertas yang telah dilapisi oleh bermacam-macam zat kimia. Kemudian ia memaparkan cahaya matahari ke atas kertas itu, dengan sebuah obyek di depannya. Jadilah citra obyek tersebut tercetak pada kertas. Proses ini dinamainya ‘Calotype’, yang berarti ‘penggambaran indah’, dalam bahasa Yunani.
Kodak No. 2 Brownie Box Camera (1910)
Perkembangan selanjutnya dari kamera foto terjadi bersamaan dengan ditemukannya teknologi rollfilm. Tahun 1888, seorang berkebangsaan Amerika Serikat bernama George Eastman, memperkenalkan kamera yang dijual dengan harga terjangkau dan bernama “Kodak”. Kamera Kodak yang pertama ini sudah terisi dengan sebuah rollfilm hitam putih yang mampu untuk merekam 100 foto.
Perusahaan Kodak milik George Eastman ini mempunyai slogan “You press the button, we do the rest” (Anda yang menekan tombolnya, kami yang mengurus selanjutnya), karena untuk memproses dan mencetak hasil fotonya, konsumen perlu mengembalikan kamera mereka ke pabrik.
Jadi itulah sejarah awal dari kamera foto. Dimulai dengan eksperimen Joseph Nicéphore Niépce yang mengembangkan kamera obscura agar bisa merekam gambar, dilanjutkan oleh Louis JM Daguerre dengan daguerreotypenya yang menyempurnakan hasil eksperimen Niépce, kemudian William Henry Fox Talbot yang mempunyai konsep serupa dengan Daguerre, dan terakhir George Eastman, yang memproduksi kamera ‘Kodak’nya yang murah serta mudah digunakan, dan akhirnya membuat fotografi menjadi semakin memasyarakat.

4. FILM

Film atau rollfilm adalah media yang menyimpan gambar negatif dari sebuah foto. Gambar negatif ini kemudian diproses dengan cara-cara tertentu agar gambarnya bisa tercetak pada media lain (kertas), dan jadilah sebuah foto.
Perkembangan awal dari film adalah lempengan timah/logam yang dipergunakan oleh Niépce, Daguerre, dan Talbot untuk merekam gambar yang dihasilkan dari alat mereka masing-masing. Akan tetapi lempengan yang telah dilapisi oleh berbagai macam zat kimia itu, tidaklah bisa disebut sebagai film karena gambar yang dibuat, tercetak pada lempengan itu juga. Sedangkan definisi film adalah media yang menyimpan gambar negatif, untuk kemudian diproses agar bisa tercetak pada media lain.
Adapun film seperti yang kita kenal sekarang ini, ditemukan oleh George Eastman, pendiri dari perusahaan Kodak, pada tahun 1884. Film jenis pertama ini berupa kertas yang diolesi dengan jel khusus yang kering. Baru pada tahun 1889, Eastman berinovasi dengan membuat film berbahan plastik transparan. Film ini terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar, yaitu plastik khusus yang dicampur dengan nitrat dan kapur barus.
'Film' yang umum digunakan.
Pengembangan pun terus dilakukan, film yang lebih modern dan biasa kita gunakan terdiri 3 hingga 20 lapisan, dan merupakan campuran dari berbagai bahan kimia. Adapun unsur-unsur yang terdapat pada film itu akan menentukan sensitifitas, kontras, resolusi dan efek-efek lain pada foto yang dibuat.
Menjelang akhir abad 20, muncul ‘film’ jenis baru.Film baru itu adalah film elektronik (media penyimpanan data) yang digunakan pada kamera digital. Karena lebih murah dan bisa digunakan berulang-ulang, kini orang lebih memilih untuk memanfaatkan fotografi digital dan film elektronik tadi. Hasilnya pun bisa menyamai bahkan melebihi kualitas dari foto yang dihasilkan film konvensional.

5. KERTAS FOTO

Berbicara tentang kertas foto berarti kita berbicara tentang media di mana sebuah gambar tercetak dan akhirnya disebut sebagai sebuah foto. Definisi yang lebih tepat, kertas foto adalah sebuah kertas yang peka akan cahaya, sehingga bisa dibubuhi gambar hasil fotografi di atasnya. Akan tetapi, pada era fotografi digital ini, pengertian dari kertas foto menjadi bergeser. Kini, kertas foto diartikan sebagai kertas apapun yang bisa dimanfaatkan untuk mencetak foto dengan kualitas baik (tentunya dengan bantuan printer atau alat cetak lain). Jadi, apakah itu kertasglossy, doff ataupun jenis kertas lainnya, asalkan kertas itu bisa digunakan untuk mencetak foto dengan baik, maka bisa disebut sebagai kertas foto.
Pada awalknya, kertas foto adalah kertas khusus yang dilapisi beberapa zat kimia agar kertas itu bisa digunakan untuk mencetak foto yang berasal dari film negatif.
Bila kita menelusuri sejarah awal ditemukannya media untuk mencetak foto ini, maka kita akan bertemu kembali dengan Joseph Nicéphore Niépce yang berhasil membuat foto pertama pada tahun 1926. Saat itu ia melapisi sebuah lempengan timah dengan beberapa zat kimia, agar bisa merekam gambar yang terproyeksi dari kamera obscuranya.
Konsep yang dipakai Niépce untuk membuat sebuah lempengan logam menjadi peka cahaya ini, kemudian terus dikembangkan hingga pada tahun 1880an, George Eastman berhasil menggunakan kerta khusus untuk mencetak foto dari film negatif.

6. FOTOGRAFI DIGITAL

Fotografi digital merupakan salah satu inovasi terbaik dalam dunia fotografi. Kehadirannya telah mengubah paradigma masyarakat yang menganggap bahwa fotografi adalah suatu bidang yang mahal dan sulit untuk dikuasai. Fotografi digital benar-benar bisa memberikan kepraktisan dan kemudahan bagi setiap orang untuk membuat sebuah foto yang bagus. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, dan beragam fitur untuk membuat foto yang baik, muncul sebuah ungkapan bahwa “setiap orang bisa menjadi fotografer profesional”.
Bila ditelusuri dari sejarahnya, maka kita akan kembali ke tahun 1960an. Di mana dunia sedang mengalami revolusi besar-besaran di bidang teknologi. Eugene F. Lally, seorang teknisi dari Jet Propulsion Laboratory adalah orang pertama yang mencetuskan ide untuk mendigitalisasi sebuah foto. Saat itu tujuannya adalah untuk mempermudah pengiriman foto secara langsung dari misi-misi luar angkasa Amerika Serikat.
Pada tahun 1970an, dunia jurnalistik turut mempengaruhi kemunculan kamera digital. Saat itu, terdapat sebuah tuntutan untuk menghadirkan foto dari suatu peristiwa yang terjadi, secepat mungkin. Maka digunakanlah media pemindai foto (scanner). Sebuah foto dipindai menjadi data elektronik, kemudian dikirimkan melalui jalur telepon. Akan tetapi, cara ini juga masih dianggap merepotkan, karena terjadi penurunan kualitas gambar yang cukup signifikan dan proses pengiriman foto pun masih memerlukan waktu yang relatif lama.
Kamera Digital Model Pertama
Untuk menjawab persoalan ini, diperlukan suatu kamera yang bisa secara langsung menciptakan foto yang berupa data elektronik. barulah pada bulan Desember tahun 1975, seorang teknisi dari perusahaan Kodak yang bernama Steven Sasson, menjadi orang pertama yang menemukan Kamera Digital.
Kamera yang dibuatnya, menggunakan sensor CCDsebagai media penerimaan gambar dan hanya mampu menghasilkan foto hitam putih dengan resolusi sebesar 0,01 megapixel (320 x 240 pixel). Media penyimpanannya adalah sebuah kaset tape, sedangkan untuk melihat hasil gambar, kamera ini harus disambungkan terlebih dahulu dengan sebuah televisi. Kamera ini mempunyai bobot seberat 3,6 kg dan membutuhkan waktu tak kurang dari 23 detik untuk memproses satu buah foto.
Walaupun kamera digital model pertama ini masih belum praktis dan belum sepenuhnya menjawab persoalan-persoalan yang terjadi, tapi alat ini telah menjadi awal mula dari kemudahan dan kepraktisan teknologi fotografi digital yang kita nikmati sekarang ini. Setelah penemuan dari kamera digital model pertama, kamera-kamera digital selanjutnya terus bermunculan dengan perbaikan-perbaikan dari model sebelumnya, dengan berbagai fitur serta kemampuan yang baru.